Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini GDP

  • Moody's Investors Service Keeps Indonesia's Credit Rating at Baa3

    New York-based Moody's Investors Service kept Indonesia's sovereign credit rating at Baa3 (stable outlook), the lowest level within the investment grade rating. Although the rating agency is positive about the strong nature of Indonesia's economy and the prudent fiscal policy that is safeguarded by the Indonesian government and central bank, it sees few room for an upgrade soon (to Baa2) as government revenue is not expected to rise significantly in the period ahead. Moody's released this statement on Thursday (28/01).

    Lanjut baca ›

  • Rendahnya Harga Minyak Dapat Mengganggu Produksi Minyak di Indonesia

    Meskipun harga minyak agak membaik dari posisi terendah dalam 12 tahun terakhir pada hari Jumat (08/01) karena rebound pasar saham Republik Rakyat Tiongkok (RRT), ada kekuatiran bahwa Indonesia tidak akan mencapai target lifting minyak 2016 karena produsen minyak di negara ini menjadi kurang bersemangat untuk meningkatkan produksi saat harga minyak lemah. Kemarin, minyak Brent turun ke 32,16 dollar Amerika Serikat (AS) per barel - tingkat terendah sejak 2004 - setelah RRT mendevaluasi yuan dan saham RRT anjlok lebih dari 7% yang menyebabkan terjadinya mekanisme circuit-breaking, bahkan menyebabkan penjualan saham global secara besar-besaran.

    Lanjut baca ›

  • Apa Dampak Perlambatan Ekonomi Cina pada Indonesia?

    Gejolak ekonomi yang telah mendorong pertumbuhan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke level terendah dalam 25 tahun terakhir telah berdampak langsung pada Indonesia karena RRT adalah mitra dagang utama Indonesia. Kekuatiran akan perlambatan ekonomi RRT (dan dampak perlambatan ini pada ekonomi dunia) bertahan pada tahun 2016 karena Caixin/Markit Purchasing Managers’ Index (PMI) menurun selama 10 bulan berturut-turut di Desember 2015 (di 48,2), sedangkan pembacaan jasa layanan untuk bulan Desember turun ke level terendah dalam 17 bulan terakhir (50,2).

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Tahun lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 12,13% sehingga berakhir pada 4,593.01 poin pada 30 Desember 2015 di tengah ketidakpastian global yang parah akibat ancaman pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi yang besar dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memasuki hari perdagangan pertamanya di tahun baru. Apa yang kita harapkan dari kinerja saham Indonesia di Januari 2016?

    Lanjut baca ›

  • Ekonomi Indonesia Tahun 2015: Kegagalan Mencapai Kebanyakan Target

    Kementerian Keuangan Indonesia mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (3/1) yang menyatakan bahwa Indonesia gagal memenuhi sebagian besar target ekonomi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Alasan utama dari lemahnya kinerja adalah harga komoditi yang rendah, pertumbuhan ekonomi global yang lesu, perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan arus keluar modal yang dipicu oleh pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Hanya realisasi inflasi dan hasil treasury yield yang sejalan dengan target pemerintah.

    Lanjut baca ›

  • Tantangan bagi Perekonomian Indonesia Tetap Berlanjut di 2016

    Dengan akan berakhirnya tahun 2015, maka ada baiknya kita melihat tantangan yang dihadapi Indonesia tahun ini dan apakah tantangan ini akan tetap ada di tahun 2016. Singkatnya, kami percaya bahwa tantangan eksternal yang ada saat ini akan bertahan di tahun yang baru. Pertumbuhan ekonomi negara ini diproyeksikan melaju menjadi 5,3% pada basis year-on year (y/y) pada tahun 2016 dari perkiraan 4,7% (y/y) pada tahun 2015 (tahun kelima berturut-turut perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto), tetapi pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh peningkatan pengeluaran pemerintah.

    Lanjut baca ›

  • Consumer Price Index Indonesia: Inflation in 2015 Expected Below 3%

    Indonesian inflation may reach 2.9 percent year-on-year (y/y) only in full-year 2015, the lowest level since 2009 when inflation in Southeast Asia's largest economy was recorded at 2.78 percent (y/y). In recent years Indonesia's inflation has been volatile with peaks correlating with administered price adjustments (primarily fuel and electricity price hikes as the government is keen on limiting spending on subsidies). Another characteristic of Indonesia is that inflation is generally high (compared to advanced economies), which is in line with the higher economic growth pace (than that of advanced economies).

    Lanjut baca ›

  • Pertumbuhan Kredit di Indonesia Tidak Akan Mencapai Target Bank Indonesia

    Bank Indonesia memprediksi bahwa realisasi pertumbuhan kredit akan mencapai 9-10% pada basis year-on-year (y/y) di 2015, di bawah targetnya pada 11%-13% (y/y). Sampai dengan Oktober 2015 pertumbuhan kredit bank-bank di Indonesia mencapai 10,4%, melambat dari 11,1% di bulan sebelumnya. Juda Agung, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), mengatakan pertumbuhan kredit yang melambat sejalan dengan perlambatan ekonomi.

    Lanjut baca ›

  • Penjualan Mobil di Indonesia Tetap Lambat di Akhir Tahun

    Sesuai dengan prediksi dan kecenderungan umum sepanjang tahun ini, penjualan mobil Indonesia turun 4,4% menjadi 87.311 unit pada bulan November 2015. Pada periode Januari-November 2015, total penjualan mobil di negara itu mencapai 940.317 unit, turun 16,7% dari penjualan mobil di periode yang sama tahun lalu. Penyebab utama dari performa yang lemah ini adalah melemahnya daya beli masyarakat Indonesia akibat perlambatan ekonomi negara ini, inflasi yang tinggi (dalam tiga kuartal pertama tahun ini), dan harga komoditi yang rendah.

    Lanjut baca ›

  • Asian Development Bank Cuts Forecast for Economic Growth Indonesia

    The Asian Development Bank (ADB) lowered its forecast for economic growth in Indonesia to 4.8 percent year-on-year (y/y) in 2015 and to 5.3 percent (y/y) in 2016 from previously 4.9 percent (y/y) and 5.4 percent (y/y), respectively. In its latest report on Indonesia, the ADB cited that problems related to budget disbursement and the nation’s weak export performance were the main factors to cut its growth projection for Indonesia - for both 2015 and 2016 - by 0.1 percentage point. In September 2015, the ADB had already cut its growth forecast for Indonesia on the back of negative effects of China’s economic slowdown.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru GDP

No business profiles with this tag