United Tractors Dibebani oleh Rendahnya Permintaan Alat Berat
United Tractors, distributor alat-alat berat terbesar di Indonesia, masih menghadapi tantangan karena permintaan yang lemah secara terus-menerus akibat rendahnya harga komoditi. Kegiatan usaha di sektor agrobisnis, pertambangan dan infrastruktur telah melambat. Konteks ini diprediksi akan membawa kepada melambatnya laju pertumbuhan laba bersih bagi perusahaan ini baik di tahun 2015 maupun 2016. Perusahaan ini, anak perusahaan dari Astra International (konglomerat terdiversifikasi terbesar di Indonesia), menguasai kira-kira 40% pangsa pasar alat berat di Indonesia.
Dalam sepuluh bulan pertama di tahun 2015, United Tractors menjual 1.870 unit alat berat, turun 42,2% dari penjualan pada periode yang sama tahun lalu. Angka penjualan diperkirakan akan meningkat menjadi 2.000 unit pada akhir tahun. Pada tahun 2016, United Tractors memproyeksikan akan menjual 1.900 unit alat berat. Kendati begitu, ini mungkin target yang terlalu ambisius. Produk-produk permesinan perusahaan ini mencakup merek-merek seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Komatsu Forest dan Tadano.
Selain melambatnya penjualan alat-alat berat, United Tractors telah dibebani oleh penjualan batubara yang lebih lemah dari anak perusahaannya Pamapersada Nusantara. Pada periode Januari-Oktober 2015, produksi batubara unit ini menurun 4,8% pada basis year-on-year (y/y) menjadi 90,1 juta ton, sedangkan stripping ratio naik 3,4% menjadi 7,3 kali. Produksi batubara yang lebih lemah di tahun ini disebabkan oleh cuaca buruk dan berlimpahnya pasokan global. Namun, gross margin (selisih antara pendapatan perusahaan dan biaya penjualan barang dibagi dengan pendapatan perusahaan) berhasil naik menjadi 25,5% pada kuartal 3 tahun 2015, naik dari 23,5% di periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan gross margin didukung oleh program-program efisiensi biaya dan membaiknya nilai tukar rupiah (terhadap dollar Amerika Serikat). Namun, margin keuntungan diperkirakan menurun tahun ini dan juga di tahun 2016 karena lemahnya harga batubara.
Rasio price to earnings (P/E) United Tractors saat ini berada pada 9,7 kali, level terendah dalam satu dekade karena kondisi pasar yang negatif saat ini. Sejauh ini di tahun ini, saham United Tractors telah jatuh 8,9%. Menarik pula untuk dicatat bahwa porsi yang relative besar dari pendapatan perusahaan ini berdenominasi dollar Amerka Serikat (AS), menyiratkan bahwa United Tractors diuntungkan ketika rupiah melemah terhadap dollar AS. Sejauh ini di tahun ini, rupiah telah melemah 13% terhadap dollar AS.
Performa Saham United Tractors - UNTR:
Proyeksi Ikhtisar Keuangan United Tractors:
2013 | 2014 | 2015F | 2016F | 2017F | |
Pendapatan Bersih |
51,012.4 | 53,141.8 | 50,344.0 | 48,952.0 | 51,008.0 |
Laba Bersih |
4,833.7 | 5,369.6 | 6,111.0 | 5,756.0 | 6,039.0 |
EBITDA | 10,446.0 | 11,819.0 | 12,729.0 | 12,450.0 | 13,267.0 |
P/E Ratio (x) | 13.3 | 11.7 | 10.3 | 11.0 | 10.4 |
PBV (x) | 2.0 | 1.8 | 1.6 | 1.5 | 1.4 |
in billion IDR rupiah unless otherwise stated
Sumber: Danareksa Sekuritas
Bahas
Silakan login atau berlangganan untuk mengomentari kolom ini